Maulid Nabi di Ahlus-Shafa Wal-Wafa: Ketika Cinta Rasul Bertemu Semangat Merawat Kebhinekaan

KOMINFO IDRISIYYAH • 27 Agustus 2026

Maulid Nabi di Ahlus-Shafa Wal-Wafa: Ketika Cinta Rasul Bertemu Semangat Merawat Kebhinekaan

Tarekat Idrisiyyah | Sidoarjo, 27 Agustus 2026 — Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Pesantren Ahlus-Shafa Wal-Wafa, Sidoarjo, Rabu malam (26/8), berlangsung dengan dihadiri oleh Ribuan jamaah bersama tokoh budayawan dan tokoh lintas agama dalam rangkaian acara yang memadukan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dengan semangat merawat persaudaraan dan kemanusiaan.


Rangkaian acara diawali dengan talaqqi Al-Qur'an, doa dan dzikir tahlil, kemudian dilanjutkan sambutan, penyerahan beasiswa bagi yatim berprestasi, serta Panggung Kebhinekaan dan Dialog Kebangsaan. Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan ceramah agama oleh Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag.


Maulid yang Mempertemukan Perbedaan

Kehadiran tokoh lintas agama dalam peringatan Maulid di Ahlus-Shafa Wal-Wafa bukan hal yang baru. Dalam beberapa tahun sebelumnya, pesantren ini juga menjadi ruang perjumpaan lintas iman melalui dialog kebangsaan. Pada peringatan Maulid 1446 H, misalnya, tokoh agama dan penghayat kepercayaan hadir dalam dialog yang membahas pentingnya toleransi dan penerimaan terhadap perbedaan.


Semangat tersebut sejalan dengan gerakan Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP) yang dirintis oleh KH. Mohammad Nizam As-Shofa atau Buya Ash Sofa. Gerakan ini dibangun sebagai ruang komunikasi dan kerja sama lintas agama dengan keyakinan bahwa keberagaman Indonesia merupakan kekuatan untuk membangun kehidupan bersama.


Pada malam itu, keberagaman kembali hadir dalam satu ruang. Jamaah dari berbagai daerah,, duduk bersama dengan para tokoh yang berbeda latar belakang untuk membicarakan persoalan yang melampaui sekat-sekat identitas: kemanusiaan dan perdamaian.


Dari Pengalaman Vatikan, Syekh Akbar Bicara Kemanusiaan

Dalam dialog kebhinekaan tersebut, Syekh Akbar turut mengangkat pengalaman ketika berkunjung ke Vatikan. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk untuk berbicara mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang menurutnya perlu kembali mendapat perhatian serius.


Syekh Akbar menyoroti kondisi dunia saat ini, ketika nilai-nilai kemanusiaan menghadapi tantangan berat. Konflik dan penderitaan yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk tragedi kemanusiaan di Gaza, menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak boleh hanya menjadi wacana.


Menurut Syekh Akbar, para rohaniawan memiliki tanggung jawab untuk mengangkat kembali persoalan kemanusiaan dan mendorong masyarakat mencari jalan menuju perdamaian. Perbedaan agama dan keyakinan tidak semestinya menjadi alasan untuk mengabaikan penderitaan manusia lainnya.


Pesan tersebut menjadi relevan dengan semangat dialog kebangsaan yang selama ini dikembangkan di Ahlus-Shafa Wal-Wafa: mempertemukan berbagai kelompok untuk membangun komunikasi, saling memahami, dan menemukan nilai bersama dalam kehidupan berbangsa.


Ketika Cinta kepada Rasulullah Menjadi Cinta kepada Kemanusiaan

Bagi Syekh Akbar, kecintaan kepada Rasulullah semestinya tidak berhenti pada lantunan shalawat dan peringatan Maulid. Rasulullah adalah teladan dalam menghadirkan rahmat, kasih sayang, dan akhlak dalam kehidupan.

Karena itu, peringatan Maulid dapat menjadi momentum untuk kembali bertanya: sudah sejauh mana nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Rasulullah hadir dalam kehidupan kita?


Pesan ini menjadi semakin penting ketika dunia masih menyaksikan berbagai konflik dan penderitaan manusia. Di tengah kondisi tersebut, para pemimpin dan tokoh agama memiliki ruang strategis untuk menghidupkan kembali nilai kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, dan perdamaian.


Dari Sidoarjo, pesan yang disampaikan menjadi sederhana tetapi mendalam: perbedaan tidak harus menjauhkan manusia. Justru melalui perjumpaan, dialog, dan nilai-nilai kemanusiaan, perbedaan dapat menjadi jalan untuk merawat persaudaraan dan memperjuangkan perdamaian.