Syekh Akbar Hadir di UIN Walisongo, Bahas Perawatan Jiwa di Era Digital
KOMINFO IDRISIYYAH • 23 September 2026
Tarekat Idrisiyyah | Semarang, 21 September 2026 — Mursyid Tarekat Idrisiyyah, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag., hadir sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Tasawuf dan Psikoterapi yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang, Senin (21/9). Seminar mengangkat tema “Merawat Jiwa di Era Digital: Integrasi Tasawuf dan Psikoterapi Menuju Ketenangan Spiritual”, sekaligus menjadi bagian dari peringatan anniversary ke-26 Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran akademisi FUHUM UIN Walisongo, di antaranya Dekan FUHUM Dr. Muhammad Sya’roni, M.Ag., Ketua Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Sri Rejeki, S.Sos.I., M.Si., serta Guru Besar Ilmu Tasawuf Prof. Dr. Abdul Muhaya, M.A. yang juga menjadi narasumber. Diskusi dipandu oleh Dr. Sulaiman, M.Ag.
Dalam sambutannya, Dekan FUHUM menyampaikan bahwa agenda yang semula direncanakan secara sederhana kemudian dikembangkan menjadi seminar nasional setelah mengetahui kehadiran Syekh Akbar. Ia juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut serta menyambut kedatangan Syekh Akbar di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo.
Dalam pemaparannya, Syekh Akbar mengawali pembahasan dengan menjelaskan tasawuf sebagai ilmu yang berkaitan dengan jiwa, batin, dan qalbu. Menurutnya, qalbu memiliki posisi penting dalam diri manusia karena menjadi sumber kesadaran yang kemudian menggerakkan perilaku dan pancaindra. Karena itu, pembahasan tentang merawat jiwa pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari upaya merawat dan membersihkan qalbu.
Syekh Akbar kemudian menjelaskan pentingnya tazkiyatun nafs, yakni proses penyucian dan pembersihan jiwa. Syekh menekankan bahwa pembinaan spiritual tidak cukup berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi membutuhkan latihan yang dilakukan secara nyata. Dalam konteks tersebut, ia menjelaskan beberapa bentuk riyadhah ruhiyah, di antaranya mengendalikan pembicaraan, menyediakan waktu untuk 'uzlah dan dzikir, menjalankan puasa, serta menghidupkan waktu malam untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Lebih lanjut, Syekh Akbar mengaitkan pembinaan jiwa dengan tantangan kehidupan di era digital. Perkembangan teknologi memberikan berbagai kemudahan, tetapi manusia tetap perlu menjaga dimensi batin agar tidak kehilangan ketenangan spiritual. Ia membedakan ketenangan yang bersumber dari kondisi duniawi dengan sakinah, yakni ketenangan yang menurut penjelasannya diberikan Allah kepada hati orang-orang beriman.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Prof. Dr. Abdul Muhaya, M.A. yang membahas keterkaitan tasawuf dengan kesehatan manusia, makna kehidupan, dan pengembangan kualitas hidup. Pertemuan dua narasumber tersebut mempertemukan perspektif tasawuf dari lingkungan akademik dengan pengalaman tasawuf praktis dan ketarekatan dalam membahas persoalan jiwa manusia di tengah perubahan zaman.
Kegiatan berlangsung dalam format seminar dan diskusi bersama mahasiswa serta sivitas akademika UIN Walisongo. Melalui forum tersebut, tasawuf dan psikoterapi dibahas bukan hanya sebagai kajian keilmuan, tetapi juga sebagai upaya memahami dan merawat dimensi batin manusia agar tetap memiliki ketenangan, makna, dan orientasi spiritual di tengah kehidupan modern.