Dua Guru, Satu Panggung: Kisah Dr. Sulaiman dalam Perjalanan Tasawuf

KOMINFO IDRISIYYAH • 23 September 2026

Dua Guru, Satu Panggung: Kisah Dr. Sulaiman dalam Perjalanan Tasawuf

Tarekat Idrisiyyah | Semarang, 21 September 2026 — Ada kisah personal yang membuat Seminar Nasional Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo Semarang terasa istimewa bagi Dr. Sulaiman, M.Ag.. Bertindak sebagai moderator, beliau tidak hanya memandu diskusi, tetapi juga mempertemukan dua sosok yang memiliki tempat penting dalam perjalanan keilmuannya: Prof. Dr. Abdul Muhaya, M.A. dan Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag.


Dr. Sulaiman menuturkan bahwa dirinya telah belajar kepada Prof. Abdul Muhaya sejak S1, S2 hingga S3. Dari perjalanan akademik tersebut, ia memperoleh pembelajaran mengenai teori tasawuf. Sementara itu, perkenalannya dengan Syekh Akbar membawanya pada pengalaman tasawuf dalam praktik ketarekatan. Ia bahkan mengisahkan bahwa setelah berbaiat kepada Syekh Akbar, pemahamannya tentang pentingnya guru spiritual mengalami perubahan.


“Saya ini ketemu dua guru saya,” demikian inti kesaksian Dr. Sulaiman ketika menggambarkan pertemuan kedua tokoh tersebut dalam satu forum. Karena itu, ia menyebut kesempatan menjadi moderator dalam seminar tersebut sebagai sebuah anugerah. Bagi dirinya, pertemuan itu mempertemukan dua sisi perjalanan yang selama ini ia jalani: tasawuf sebagai ilmu yang dipelajari dan tasawuf sebagai jalan yang dipraktikkan.


Pengalaman Dr. Sulaiman juga membawanya mengenal Idrisiyyah secara langsung. Ia menceritakan bagaimana almarhum Prof. Amin Syukur pernah mengarahkannya untuk datang ke Idrisiyyah ketika ia ingin memahami praktik “zuhud modern”. Setelah berkunjung, ia mencoba memahami konsep tersebut bukan hanya melalui teori, tetapi melalui kehidupan dan praktik yang ia temui di Pesantren Idrisiyyah.


Pada akhirnya, kisah tersebut memberi warna tersendiri bagi seminar bertema “Merawat Jiwa di Era Digital: Integrasi Tasawuf dan Psikoterapi Menuju Ketenangan Spiritual.” Di tengah ruang akademik, dua perspektif bertemu: pengalaman keilmuan tasawuf dari lingkungan perguruan tinggi dan pengalaman tasawuf praktis dari perjalanan ketarekatan. Dan bagi Dr. Sulaiman, pagi itu menjadi momen ketika dua gurunya hadir dalam satu panggung yang sama.