Tasawuf sebagai Kompas Spiritual di Era Digital: Menemukan Kembali Hakikat Diri
KOMINFO IDRISIYYAH • 29 September 2026
Tarekat Idrisiyyah | Banjarmasin 28 September 2026 — Di tengah hiruk-pikuk era digital yang serba cepat, manusia modern menghadapi paradoks: semakin mudah terhubung secara teknologi, tetapi tidak selalu semakin dekat dengan makna kehidupan. Banjir informasi, tuntutan untuk terus terkoneksi, serta budaya yang kerap mengukur keberhasilan melalui materi dan pengakuan sosial menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan batin manusia.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Seminar Nasional bertema “Spiritualitas di Era Digital: Menjadi Pribadi Cerdas, Unggul, dan Berakhlak Mulia” yang diselenggarakan UIN Antasari Banjarmasin pada Senin, 28 September 2026. Kegiatan berlangsung pukul 13.30 WITA dan merupakan bagian dari rangkaian kerja sama antara UIN Antasari dan STAI Idrisiyyah Tasikmalaya. Seminar menghadirkan Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman, M.Ag., Mursyid Tarekat Idrisiyyah, serta Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A., Guru Besar Sosiologi Agama UIN Antasari sekaligus Direktur Pascasarjana UIN Antasari.
Dalam paparannya, Syekh Akbar menjelaskan tasawuf sebagai ilmu yang berhubungan dengan kondisi jiwa manusia. Jika fikih memberikan perhatian pada aspek lahiriah dari pelaksanaan agama, tasawuf bekerja pada dimensi batin dengan mengenali penyakit jiwa, membersihkan hati, dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.
Kesabaran, keikhlasan, tawakal, serta larangan terhadap kesombongan dan riya merupakan contoh dimensi batin yang menjadi perhatian tasawuf. Karena itu, tasawuf tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari syariat, melainkan sebagai dimensi yang melengkapi pengamalan agama agar ibadah tidak hanya benar secara lahir, tetapi juga memiliki kualitas batin
Perkembangan teknologi digital membawa kemudahan yang besar, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap moral dan integritas. Manusia dapat dengan mudah memperoleh informasi, membangun jejaring, bahkan memperoleh pengakuan melalui ruang digital. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu berjalan seiring dengan kedalaman kesadaran batin.
Dalam konteks inilah tasawuf memiliki relevansi. Orientasi hidup tidak semata-mata diletakkan pada materi, jabatan, popularitas, atau pengakuan manusia, tetapi diarahkan kembali kepada ridha Allah SWT sebagai tujuan utama.
Gagasan tersebut juga bersinggungan dengan pembahasan Prof. Dr. H. Mujiburrahman mengenai budaya digital. Menurutnya, budaya digital dapat menciptakan kondisi ketika manusia semakin terkoneksi secara algoritmik tetapi justru mengalami keterasingan dari keseluruhan dimensi kemanusiaannya. Ia menyoroti fenomena ketika popularitas dan jumlah penonton di ruang digital mudah dipersepsikan sebagai ukuran nilai seseorang.
Karena itu, spiritualitas menjadi penting bukan untuk menjauhkan manusia dari teknologi, melainkan untuk memastikan bahwa manusia tetap menjadi subjek yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.
Tasawuf Bukan Pelarian dari Era Digital
Tasawuf di era digital bukan berarti menolak teknologi atau menarik diri dari perkembangan zaman. Sebaliknya, tasawuf dapat menjadi kompas spiritual agar manusia tetap memiliki orientasi ketika berhadapan dengan derasnya informasi, algoritma, tuntutan popularitas, dan berbagai bentuk distraksi.
Teknologi dapat membantu manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan menciptakan berbagai kemajuan. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan kebutuhan manusia untuk mengenal dirinya, menemukan makna, dan membangun hubungan yang mendalam dengan Allah SWT.
Seminar Nasional di UIN Antasari Banjarmasin ini pada akhirnya mempertemukan dua ruang yang sering dipandang terpisah: spiritualitas dan kehidupan modern. Melalui dialog antara tasawuf, ilmu sosial, dan realitas digital, tasawuf ditawarkan bukan sebagai pelarian dari zaman, tetapi sebagai jalan untuk tetap memiliki kesadaran, integritas, dan orientasi hidup di tengah perubahan.