Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya Ziarah ke Maqbaroh Masyaikh Idrisiyyah dalam Rangkaian Hari Santri Nasional 2026
KOMINFO IDRISIYYAH • 15 Oktober 2026
TASIKMALAYA — Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya bersama jajaran pemerintahan daerah melaksanakan ziarah ke Maqbaroh Masyaikh Idrisiyyah pada Kamis (15/10). Kegiatan ini merupakan bagian dari Ziyarotus Syuyukh yang merupakan program kolaborasi antara Forum Pondok Pesantren Kabupaten Tasikmalaya dan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam rangka mengawali peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026. Rangkaian ziarah yang berlangsung pada 13–16 Oktober 2026 tersebut mengunjungi sejumlah maqbaroh ulama dan pendiri pesantren di berbagai wilayah Kabupaten Tasikmalaya.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari pihak Pesantren Idrisiyyah yang diwakili oleh Mudir Majelis Ketarekatan, Ustadz Asep Deni, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terima kasih atas kehadiran pimpinan daerah beserta jajaran pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya. Ia juga menjelaskan biografi singkat Masyaikh Idrisiyyah dan perjalanan panjang Tarekat sejak tahun 1932 di Indonesia.
“Inilah tempat yang kami sebut sebagai Ghubah, tempat para mursyid Tarekat Idrisiyyah beristirahat. Dimulai dari muassis di Indonesia, Syekh Akbar Abdul Fattah, kemudian Syekh Akbar M. Dahlan dan Syekh Akbar M. Daud Dahlan,” ungkap Ustadz Asep Deni.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Tasikmalaya menyampaikan bahwa kegiatan ziarah ini menjadi momentum untuk mengambil keberkahan (tabarukan) dari para wali, ulama, dan orang-orang saleh. Ia berharap masyarakat Tasikmalaya dapat terus menjaga identitas daerah sebagai Kota Santri dengan meneladani para guru dan ulama.
“Kegiatan ini tentu kita tabarukan dari para auliya, dari para ulama dan orang saleh. Semoga Tasikmalaya yang sering disebut Kota Santri dan kita sebagai santri-santrinya berharap mendapat cahaya dari guru-guru kita dalam menjalani kehidupan,” tutur Bupati Tasikmalaya.
Kegiatan Ziyarotus Syuyukh ini menjadi momentum untuk mengenang jasa dan perjuangan para ulama sekaligus memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan pesantren. Identitas Tasikmalaya sebagai Kota Santri tidak hanya tercermin dari banyaknya lembaga pendidikan Islam, tetapi juga dari komitmen untuk merawat adab keilmuan, menghormati para guru, dan melanjutkan nilai-nilai keislaman yang diwariskan oleh para ulama kepada generasi berikutnya.