Anggota MUI Pusat Kunjungi Pesantren Idrisiyyah, Bahas Persatuan Aswaja dan Modernisasi Pendidikan Islam

KOMINFO IDRISIYYAH • 21 Oktober 2026

Anggota MUI Pusat Kunjungi Pesantren Idrisiyyah, Bahas Persatuan Aswaja dan Modernisasi Pendidikan Islam

Tarekat Idrisiyyah | Tasikmalaya, 20 Oktober 2026 — Dr. Aang Asyari, Lc., M.Si., anggota Komisi Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sekaligus salah satu Ketua MUI Kabupaten Kuningan, bersilaturahmi dengan Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag., di kediaman beliau di lingkungan Pesantren Idrisiyyah, Selasa (20/10). Pertemuan ini menjadi ruang dialog mengenai penguatan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), peran tasawuf dalam kehidupan umat Islam, serta tantangan pendidikan Islam di tengah perkembangan zaman.


Dalam pertemuan tersebut, Dr. Aang mengungkapkan bahwa dirinya telah beberapa kali melewati Pesantren Idrisiyyah. Pemandangan masjid dan bangunan pesantren yang dilihatnya menumbuhkan keyakinan bahwa praktik tasawuf di Idrisiyyah memiliki landasan yang baik.


“Saya beberapa kali melewati depan Tarekat Idrisiyyah. Ketika melihat masjid dan bangunan pesantren, saat itu saya meyakini ini tasawuf yang benar,” ujar Dr. Aang.


Pernyataan tersebut menjadi pintu masuk bagi pembicaraan mengenai posisi tasawuf dalam kehidupan beragama. Dalam tradisi Islam, tasawuf tidak semata-mata berbicara tentang pengalaman spiritual, tetapi juga berkaitan dengan pembinaan hati, penyucian jiwa, dan pembentukan akhlak yang harus berjalan seiring dengan pemahaman akidah dan pengamalan syariat.


Syekh Akbar Tekankan Pentingnya Persatuan Aswaja

Dalam dialog tersebut, Syekh Akbar menyoroti pentingnya membangun persatuan di kalangan umat Islam, khususnya dalam lingkungan Ahlussunnah wal Jamaah. Menurut beliau, salah satu tantangan yang perlu menjadi perhatian adalah masih adanya perpecahan di antara kelompok-kelompok yang sesungguhnya memiliki landasan keagamaan yang sama.


Syekh Akbar mengingatkan bahwa kekuatan Aswaja tidak cukup dibangun melalui kesamaan pemahaman dan identitas keagamaan, tetapi juga membutuhkan kebersihan hati, kelapangan dalam menyikapi perbedaan, dan kemauan untuk bekerja bersama.


“Persatuan Aswaja harus dimulai dari hati yang bersih. Ketika umat mampu mengesampingkan ego dan kepentingan kelompok, lalu bersatu di atas prinsip-prinsip agama, kekuatan Aswaja akan semakin terlihat dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat,”


Persatuan tersebut bukan berarti menghilangkan perbedaan pandangan dalam persoalan keagamaan, melainkan membangun kedewasaan dalam menyikapinya. Tauhid, fikih, dan tasawuf perlu ditempatkan sebagai pilar yang saling melengkapi: menguatkan keyakinan, menuntun pengamalan syariat, dan membersihkan hati dari sifat-sifat yang dapat merusak hubungan antarsesama.


Pendidikan Islam Perlu Menjawab Kebutuhan Zaman

Selain membahas penguatan Aswaja, pertemuan tersebut turut menyoroti tantangan pendidikan Islam di Indonesia. Syekh Akbar menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam perlu terus berbenah dan mengembangkan sistem pendidikan yang modern agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat Muslim yang semakin berkembang.


“Pendidikan Islam sekarang sudah harus modern, karena pasar Muslim sekarang menginginkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya,” ujar Syekh Akbar.


Pesan tersebut menekankan bahwa pendidikan Islam perlu mengintegrasikan kekuatan nilai-nilai keagamaan dengan mutu akademik, penguasaan ilmu pengetahuan, dan kesiapan menghadapi tantangan global. Modernisasi pendidikan bukan berarti meninggalkan tradisi keilmuan Islam, melainkan mengembangkan metode, fasilitas, dan tata kelola pendidikan agar semakin relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.


Pembahasan ini juga relevan dengan perkembangan SDIT Al-Fattah Kuningan, lembaga pendidikan yang dipimpin oleh Ust. Masyhudi, yang juga hadir dapal perjumpaan ini. Berdasarkan profil resminya, SDIT Al-Fattah mengintegrasikan nilai-nilai Islam, keunggulan akademik, dan wawasan global melalui perpaduan kurikulum nasional dengan kurikulum internasional untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan Sains. Sekolah ini juga mengembangkan sistem full day school dan boarding school dengan penekanan pada pembiasaan ibadah, tahfiz, kedisiplinan, dan pembentukan karakter.


Kehadiran Ust. Masyhudi dalam rombongan tersebut turut mempertemukan gagasan tentang masa depan pendidikan Islam dengan praktik pengelolaan lembaga pendidikan di lapangan. Tantangannya bukan sekadar menyediakan fasilitas modern, tetapi memastikan bahwa kemajuan akademik tetap berjalan seiring dengan pembinaan akidah, akhlak, dan spiritualitas peserta didik.


Selain Dr. Aang, rombongan yang bersilaturahmi dengan Syekh Akbar terdiri atas KH. Dr. Faik Ihsan Ansori, Direktur Al-Fattah Institute; K. M. Hidayat, S.Th.I., Lc., Ketua Aswaja Center; Dadan Soemantri, Ketua Ikatan Advokat Indonesia Kuningan; Ust. Masyhudi, Kepala Sekolah SDIT Al-Fattah Kuningan; serta H. Cucu, Ketua Zawiyah Kuningan.


Usai pertemuan dengan Syekh Akbar, Dr. Aang bersama rombongan melanjutkan kunjungan dengan berkeliling area Pesantren Idrisiyyah. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung lingkungan pesantren dan fasilitas yang mendukung aktivitas pendidikan serta pembinaan santri.