KNEKS Nilai Idrisiyyah Layak Jadi Model Pengembangan Ekonomi Syariah Pesantren
KOMINFO IDRISIYYAH • 21 Oktober 2026
Tarekat Idrisiyyah | Tasikmalaya, 20 Oktober 2026 - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menilai ekosistem ekonomi yang dikembangkan Pesantren Idrisiyyah memiliki potensi untuk menjadi model pengembangan ekonomi syariah berbasis pesantren. Penilaian tersebut mengemuka dalam pertemuan antara delegasi KNEKS dan pengurus Yayasan Idrisiyyah di lingkungan Pesantren Idrisiyyah, Tasikmalaya, Selasa (20/10).
Pertemuan ini membahas potensi pengembangan ekonomi pesantren yang tidak hanya bertumpu pada aktivitas pendidikan keagamaan, tetapi juga mengintegrasikan kegiatan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan unit-unit usaha produktif. Pengelolaan berbagai bidang tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian KNEKS.
Dalam pembahasan tersebut, Idrisiyyah dinilai berpotensi menjadi miniatur program ekonomi syariah yang dapat dikaji lebih lanjut untuk diterapkan atau direplikasi di lingkungan pesantren lainnya. Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah pemisahan pengelolaan kegiatan sosial dan komersial yang dinilai telah berjalan dengan baik.
Aspek ini penting karena keberlanjutan ekonomi pesantren membutuhkan tata kelola yang jelas, baik dalam mengelola kegiatan usaha maupun dalam menyalurkan manfaat sosial kepada masyarakat. Dengan demikian, aktivitas ekonomi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan umat.
Meninjau Ekosistem Usaha dan Sosial Idrisiyyah
Untuk melihat secara langsung pengembangan tersebut, delegasi KNEKS melakukan kunjungan ke sejumlah unit yang berada dalam ekosistem Idrisiyyah. Kunjungan meliputi Agnia Care sebagai unit sosial, BMT Idrisiyyah, Qini Mart, Qini Farm, TPS PESAT, Qini Depo, Air Karomah, serta Saung Panyawah.
Rangkaian kunjungan juga mencakup Kampoeng Hijrah Residence KHR 1 dan KHR 2, sebagai bagian dari kawasan pengembangan yang diperkenalkan kepada delegasi. Kunjungan lapangan ini memberikan gambaran mengenai ragam aktivitas yang dikembangkan Idrisiyyah, mulai dari layanan sosial dan keuangan, perdagangan, peternakan, pengelolaan air, kuliner, hingga pengembangan kawasan hunian.
Keberagaman unit tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi pesantren dapat melibatkan berbagai sektor yang saling melengkapi. Ekosistem ini juga membuka ruang untuk menghubungkan aktivitas produktif dengan kebutuhan pembiayaan, penguatan kelembagaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Penjajakan Instrumen Pembiayaan untuk Pengembangan Kawasan
Selain membahas tata kelola unit usaha, pertemuan turut menyinggung rencana pengembangan kawasan terintegrasi seluas kurang lebih 30 hektare. Pembahasan mencakup kemungkinan penggunaan instrumen pembiayaan syariah yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter pengembangan kawasan tersebut.
Sejumlah opsi yang dibicarakan antara lain Cash Wakaf Linked Sukuk dan blended financing. Kedua opsi ini menjadi bagian dari penjajakan yang perlu dikaji lebih lanjut, dengan mempertimbangkan kelayakan proyek, struktur pembiayaan, tata kelola, serta kesesuaian instrumen dengan tujuan pengembangan.
KNEKS juga akan mengkaji instrumen pembiayaan yang berpotensi mendukung kebutuhan Idrisiyyah. Tahap ini menjadi langkah penting untuk memetakan skema yang tepat, bukan sekadar mencari sumber pendanaan, melainkan memastikan pembiayaan dapat menopang keberlanjutan program dan pengembangan kawasan.
Bagi Idrisiyyah, penjajakan tersebut menjadi peluang untuk memperkuat fondasi ekonomi pesantren sekaligus memperluas manfaat kegiatan produktif bagi masyarakat. Sementara itu, potensi Idrisiyyah sebagai model ekonomi syariah pesantren membuka ruang pembelajaran mengenai bagaimana kegiatan pendidikan, sosial dan komersial dapat dikelola dalam satu ekosistem dengan fungsi yang jelas.
Selepas rangkaian kunjungan, delegasi juga melaksanakan salat Zuhur dan berziarah ke Maqbaroh Masyaikh. Rangkaian ini menjadi bagian dari kunjungan KNEKS ke lingkungan Pesantren Idrisiyyah.