Dari Mabit hingga Muhasabah, Mahasiswa UPI Tasikmalaya Bagikan Kesan Mendalam Belajar di Pesantren Idrisiyyah

KOMINFO IDRISIYYAH • 26 Oktober 2026

Dari Mabit hingga Muhasabah, Mahasiswa UPI Tasikmalaya Bagikan Kesan Mendalam Belajar di Pesantren Idrisiyyah

Tarekat Idrisiyyah | Tasikmalaya, 26 Oktober 2026 — Pengalaman mengikuti kegiatan Tutorial Pendidikan Agama Islam (PAI) di Pondok Pesantren Idrisiyyah meninggalkan kesan mendalam bagi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tasikmalaya. Melalui kegiatan mabit pada 24–25 Oktober 2026, para mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan keislaman, tetapi juga merasakan suasana kehidupan pesantren yang memberi ruang untuk menenangkan hati, memperbaiki diri, dan merefleksikan kembali makna menuntut ilmu.


Kesan tersebut tergambar dalam berbagai tanggapan mahasiswa setelah kegiatan berakhir. Sebagian mengungkapkan rasa syukur karena mendapat kesempatan merasakan kehidupan sebagai santri, meskipun hanya dalam waktu singkat. Bagi mereka, pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga untuk belajar, memperbaiki diri, dan kembali merasakan suasana mondok yang mungkin telah lama ditinggalkan.


Salah seorang mahasiswa mengungkapkan bahwa pengalaman menjadi santri di Pesantren Idrisiyyah bukan sekadar pengalaman baru, tetapi juga kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.


“Bertumbuh bukan hanya tentang menjadi lebih pintar, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih baik,” tulisnya dalam komentar yang dibagikan setelah kegiatan.


Bagi mahasiswa lainnya, kegiatan mabit menjadi kesempatan untuk kembali menata hati dan memperbaiki diri. Suasana pesantren mengingatkan mereka pada pentingnya menjaga kedekatan dengan Allah, membiasakan ibadah, serta menyediakan waktu untuk melakukan muhasabah di tengah kesibukan perkuliahan.


Pengalaman tersebut juga menghadirkan pemahaman baru tentang hubungan antara ilmu dan adab. Seorang mahasiswa menuliskan refleksinya bahwa pembelajaran di Idrisiyyah memberinya kesadaran bahwa ilmu tidak cukup hanya dipahami, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku.


“Ilmu yang benar akan melahirkan adab, dan adab akan menuntun langkah menuju-Nya,” tulisnya.


Refleksi lainnya menyoroti pentingnya kerendahan hati dalam perjalanan menuntut ilmu. Melalui pengalaman selama di pesantren, mahasiswa diajak untuk tidak hanya mengejar pengetahuan, tetapi juga mengenali kekurangan diri, memperbaiki perilaku, dan menjaga hubungan dengan Allah serta sesama manusia.


Selain pembelajaran dan ibadah, keramahan keluarga besar Pesantren Idrisiyyah turut menjadi bagian dari pengalaman yang dikenang para mahasiswa. Mereka menyampaikan apresiasi atas sambutan, hidangan, fasilitas, dan pelayanan panitia selama kegiatan berlangsung. Salah seorang mahasiswa bahkan mengungkapkan keinginannya untuk kembali menuntut ilmu di Pesantren Idrisiyyah apabila memiliki kesempatan.


Beragam kesan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan Tutorial PAI dapat memberikan pengalaman belajar yang melampaui penyampaian materi di ruang kelas. Melalui kehidupan pesantren, mahasiswa berkesempatan merasakan langsung suasana ibadah, kebersamaan, kedisiplinan, dan pembinaan spiritual yang menjadi bagian dari proses pembentukan diri.


Pengalaman dua hari satu malam itu diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi juga menjadi bekal bagi mahasiswa ketika kembali menjalani aktivitas akademik dan kehidupan sehari-hari. Sebab, menuntut ilmu bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang diperoleh, melainkan juga bagaimana ilmu tersebut membentuk adab, menumbuhkan keimanan, dan mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.